Jumat, 03 Juli 2015

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan

AKUNTANSI INTERNASIONAL
“PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN”






  Kelompok :
  1. Adhika Safitri                  (27211927)
  2. Diana Wijayanti               (27211799)
  3. Gabyclara Sinta Putri W  (22211985)
  4. Khazanah Ayu Mentari    (23211975)
  5. Laila Mustika Dewi          (28211188)
  6. Mutiara Ratih                    (25211057)
  7. Nurlaela Sari                     (25211358)
  8. Sani Handriani                  (26211594)
  9. Silvia Marlina                   (26211768)

  Kelas :  4EB03


Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma
2015






PSAK 2 - LAPORAN ARUS KAS
PENDAHULUAN
Tujuan
Informasi tentang arus kas suatu entitas berguna bagi para pengguna laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas serta menilai kebutuhan entitas untuk menggunakan arus kas tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi, para pengguna perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kepastian perolehannya.
Tujuan pernyataan ini adalah memberikan pengaturan atas informasi mengenai perubahan hsitoris dalam kas dan setara kas dari suatu entitas melalui laporan kas yang mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktifitas operasi, investasi ataupun pendanaan (financing) selama suatu periode.

Ruang Lingkup
0.1 Entitas harus menyusun laporan arus kas sesuai persyaratan dalam pernyataan ini dan menyajikan laporan tersebut sebagai bagian tidak terpisahkan (integral) dari laporan keuangan untuk setiap periode penyajian laporan keuangan.
0.2 Pernyataan ini menggantikan PSAK2(1994): Laporan Arus Kas.
0.3 Para pengguna laporan berkepentingan untuk mengetahui bagaimana entitas menghasilkan dan menggunakan kas dan setara kas. Hal tersebut bersifat umum dan tidak bergantung pada aktifitas entits serta apakah kas dapat dipandang sebagai produk entitas, seperti yang berlaku di lembaga keuangan. Pada dasarnya, entitas memerlukan kas dengan alasan yang sama meskipun terdapat perbedaan dalam aktivitas penghasilan pendapatan utama (revenue-produccing activisie). Entitas membutuhkan kas untuk melaksnakan usaha, melunasi kewajiban dan membagikan dividen (returns) kapada para investor. Oleh karena itu pernyataan inii mewajibkan semua entitas menyajikan laporan arus kas.

Kegunaan Informasi Arus Kas
            0.4 Jika digunakan dalam kaitannya dengan laporan keuangan lainnya, laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pengguna untuk mengevaluasi perubahan dalam aset bersih entitas, struktur keuangan (termaksuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan memepengaruhi jumlah serta  waktu arus kas dalam rangka penyesuaian terhadap keadaan dan peluang yang berubah. Informai arus kas berguna untuk menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan stera kas dan memungkinkan para pengguna mengembangkan untuk menilai dan membandingkan nilai sekrang dari arus kas masa depan (future cas flows) dari berbagai entitas. Informasi tersebut juga meningkatkan daya banding pelaporan kinerja operasi  berbagai entitas karena dapat meniadakan pengaruh penggunaan perlakuan akutansi yang berbeda terhadap transaksi dan peristiwa yang sama.
            0.5 Informasi arus kas historis sering digaunakan sebagai indikator dari jumlah, waktu, dan kepastian arus kas masa depan. Disamping itu, informasi arus kas historis juga berguna untuk meneliti kecermatan dari taksiran arus kas masa depan yang telah dibuat sebelumnya dan dalam menentukan hubungan antara profitabilitas dan raus kas bersih serta dampak perubahan harga.

Definisi
            0.6 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam pernyataan ini:
Kas terdiri atas saldo kas (cash on hand) dan rekening giro (demand deposit).
Setara kas (cas equivalent) adalah investasi yang sifatnya sangat likiut, berjangka pendek, yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah yang dapat dietentukan dan memiliki resiko perubahan nilai yang tidak signifikan.
Arus kas adalah arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas.
Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan entitas (principal revenue – producing activities)  dan aktivitas yang bukan yang merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan.
Aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan aset jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas.
Aktivitas pendanaa (finacing) adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi distribusi modal dan pinjaman entitas.

Kas dan Setara Kas

            0.7 Setara kas dimiliki untuk memenuhi komitmen kass jangka pendek, bukan untuk investasi atau tujuan lain. Untuk memenuhi persayaratan sebagai setara kas, suetu investas harus segera dapat diubah menjadi kas dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki risiko perubahn nilai yang tidak signifikan. Karenanya, suatu investasi pada umumnya memenuhi sayarat sebagai setara kas hanya jika akan segera jatuh tempo dalam waktu, misalnya tiga bulan atau kurang tanggal sejak perolehannya. Investasi dalam bentuk saham tersebut adalah setara kas. Sebagai contoh, saham preferen yang dibeli dan akan segera jatuh tempo setara tanggal penebusan  (redemption date) telah ditentukan.
            0.8 Pinjaman bank pada umumnya termasuk aktivitas pendanaan. Namun demikian, cerukan (bank overdraft) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan kas entitas. Dalam kedaan tersebut, cerukan termasuk kompenen kas dan setara kas. Karakteristik dari pengaturan perbankan tersebut mengakibatkan saldo bank kadangkala berfluktuasi dari saldo positif ke posisi penarikan berlebih (overdraw).
            0.9 Arus kas tidak mencakup mutasi di antara pos-pos yang termasuk dalam kas atau setara kas, karena komponen tersebut lebih merupakan bagian dari pengelolaan kan entitas dan bukan sebagai dari aktivitas operasi, dan pendanaan.

PENJELASAN
Penyajian Laporan Arus Kas
10.   Laporan kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan dikalsifikasi menurut aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.
            11. Entitas menyajikan arus kas dari aktivitas operasi, inverstasi dan pendanaan dengan cara yang paling sesuai dengan bisnis entitas tersebut. Klasifikasi menurut aktivitas memberikan informasi yang memungkinkan menurut para pengguna laporan untuk menilai pengaruh aktivitas tersebut terhadap posisi keuangan entitas serta terhadap jumlah kas dan setara kas. Informasi tersebut dapat juga digunakan untuk mengevaluasi hubungan di antara ketiga aktivitas tersebut.
            12. Suatu transaksi tunggal dapat meliputi beberapa arus kas yang diklasifikasi ke dalam lebih dari satu aktivitas. Sebagai contoh, jika pelunasan pinjaman bank meliputi poko dan pinjaman bunga, maka unsur bungan dapat diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi dan unsure poko pinjman dikalsifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.

Aktivitas Operasi
            13. Jumlah arus kas yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indikator utama menentukan apakah operasi entitas dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman. Memelihara kemampuan operasi entitas, membayar deviden, dan melakukan investasi beru tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari luar. Informasi mengenai unsure tertentu arus kas historis bersama dengan informasilain, berguna dalam memprediksi arus kas operasi masa depan.
            14. Arus kas dan aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasilan utama pendapatan entitas. Oleh karena itu, arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi bersih. Beberapa contoh arus kas dari aktivitas operasi adalah :
a)      Penerimaan kas dari penjualan barang dan pemberian jasa;
b)      Penerimaan kas dari royalty, fess, komisi, dan pendapatan lain;
c)      Pembayaran kas pada pemasok barang dan jasa;
d)     Pembayaran kas kepada dan untuk kepentingan karyawan;
e)      Penerimaan dan pembayaran kas oleh entitas asuransi sehubungan dengan premi, klaim, anuitas, dan manfaat polis lainnya;
f)       Pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak penghasilan kecuali jika dapat diidentifikasikan  secara khusus sebagai dari aktivitas pendanaan dan investasi;
g)      Penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjanjiakan (dealing).
Beberapa transaksi, seperti penjualan peralatan pabrik, dapat menimbulkan keuntungan atau kerugian yang diakui dalam laporan laba rugi. Arus kas yang terkait dengan transaksi semacam itu merupakan arus kas dari aktivitas investasi. Akan tetapi, pembayaran kas untuk pabrikasi atau memperoleh aset yang dimiliki untuk disewakan kepada pihak lain dan selanjutnya dimiliki untuk dijual adalah arus kas dari aktivitas operasi. Kas yang diterima dari sewa dan penjualan atas aset setelah periode sewa, diakui dengan sebagai arus kas dari aktivitas operasi.
      15. entitas dapat memiliki surat berharga dan tagihan (securitas dan loans) untuk tujuan diperdagangkan atau di perjanjikan(dealing), yang dalam hal ini dapat dipersamakan dengan persedian khusus dibeli untuk dijual kembali. Oleh karen itu, arus kas yang berasal dari pembelian dan penjualan dalam transaksi perdagangan atau perjanjian surat berharga tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi. Sama halnya dengan pemberian kredit oleh lembaga keuangan, pada umumnya diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, karena berkaitan dengan aktivitas penghasilan utama pendapatan lembaga keuangan tersebut.

Aktivitas Investasi
      16. Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas investasi perlu perlu dilakukan sebab arus kas tersebut mencerminkan penngeluaran yang telah terjadi untuk sumber daya yang dimaksudkan menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas investasi adalah :
a)      Pembayaran kas untuk membeli aset tetap, aset tidak terwujud, dan asset jangka panjang lain, termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan aset tetap yang dibangun sendiri.
b)      Penerimaan kas dari penjualan tanah, bangunan, dan peralatan dan peralatan, serta aset tidak berwujud dan asset janga panjang lain;
c)      Pembayaran kas untuk membeli instrument utang atau instrument ekuitas entitas lain dan kepemilikan dalam ventura bersama (selain pembayaran kas untuk instrument yang dianggap setara kas atau instrumen yang dimiliki untuk diperdagangkan atau diperjanjikan).
d)     Kas yang diterima dari penjualan instrument utang dan instrument ekuitas entitas lain dan kepemilikan ventura bersama (selain penerima kas dari instrument yang dimiliki untuk diperdagangkan atau diperjanjikan).
e)      Uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain (selain uang muka dan kredit yang diberikan oleh lembaga keuangan).
f)       Penerimaan kas dari pelunasan uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain ( selain uang muka dan kredit yang diberikan oleh lembaga keuangan).
g)       Pembayaran kas sehubungan dengan future contracts, forward contract, option contract, dan swap contracts, kecuali apabila kontrak tersebut dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjanjikan, atau apabila pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan; dan
h)      Pembayaran kas dari future contracts, forward contracts, option contract, dan swap contracts, kecuali apabila kontrak tersebut dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjanjikan, atau apabila pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.
Jika suatu kontrak dimaksudkan untuk lindungi nilai (hedge) suatu posisi yang dapat diidentifikasi, maka arus kas dari kontrak tersebut diklasifikasikan dengan cara yang sama seperti arus kas dari posisi yang dilindungi nilainya.

Aktivitas Pendanaan
            17. Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan penting dilakukan karena berguna untuk memprediksi klaim atas arus kas masa depan oleh para penyedia modal entitas. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan adalah :
a)      Penerimaan kas dari emisi saham atau instrument modal lainnya;
b)      Pembayaran kas kepada pemilik atau menarik atau menembus saham entitas;
c)      Penerimaan kas dari emisi obligasi, pinjaman, wesel hipotek, dan pinjaman jangka pendek dan jangka panjang lainnya;
d)     Pelunasan pinjaman;
e)      Pembayaran kas oleh penyewa (lessee) untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan dengan sewa pembiayaan (finance lease).

Pelaporan Arus Kas dari Ativitas Operasi
            18. Entitas melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan salah satu dari metode berikut :
a)      Metode langsung; dengan metode ini kelompok utama dari penerima kas bruto dan pengeluaran bruto kas diungkapkan; atau
b)      Metode ini langsung; dengan metode ini laba atau rugi bersih disesuaikan dengan mengoreksi prediksi rugi bersih disesuaikan dengan menggoreksi pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan (deferral) atau akrual dari penerimaan kas atau pembayaran kas untuk operasi di masa lalu dan masa depan, dan unsur penghasilan atau beban yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan.

19. Entitas dianjurkan untuk melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan metode langsung. Metode ini menghasilkan informasi yang berguna dalam mengesumasi arus kas masa depan yang tidak dapat dihasilkan dengan metode tidak langsung. Dengan metode langsung, informasi mengenai kelompok utama penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto dapat diperoleh dengan baik :
a)      Dari catatan akuntansi; atau
b)      Dengan menyesuaikan penjualan, beban pokok penjualan, dan pos-pos lain dalam laporan laba rugi komperehensif untuk :
                                                          i.            Perubahan persedian, piutang usaha, dan utang usaha selama, periode berjalan.
                                                        ii.            Pos bukan kas lainnya; dan
                                                      iii.            Pos lain yang berkaitan dengan arus kas investasi dan pendanaan.

20. Dalam metode tidak langsung, arus kas bersih dari aktivitas operasi ditentukan dengan menyesuaikan laba atau rugi bersih dari pengaruh :
a)      Perubahan persediaan dan piutang usaha serta utang usaha selama periode berjalan;
b)      Pos bukan kas seperti penyusutan, penyisihan, pajak ditangguhkan, keuntungan dan kerugian valuta asing yang belum direalisasi, serta laba entitas asosiasi yang belum dibagikan; dan
c)      Semua pos lain yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan.
Pelaporan Arus Kas dari Aktivitas Investasi dan Pendanaan.
21. Entitas melaporkan secara terpisah kelompok utama penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto yang berasal dari aktivitas investasi dan pendanaan, kecuali aoabila arus kas sebagaimana dijaleakan pada paraghraf 22 dan 24 dilaporkan diatas dasar arus kas bersih (net basis).
Pelaporan Arus Kas atas Dasar Arus  Kas Bersih.
            22. arus kas yang berasal dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan berikut ini dapat disajikan menurut arus kas bersih :
a.       penerimaan dan pengeluaran kas untuk kepentingan para pelanggan apabila arus kas tersebut lebih mencerminkan aktivitas pelanggan daripada aktivitas entitas; dan
b.      penerimaan dan pengeluaran kas untuk pos-pos dengan perputaran cepat, jumlah yang besar dengan jangka waktu singkat (short maturity).
23. Beberapa contoh penerimaan dan pembayaran kas sebagaimana dijelaskan pada paragraf 22 (a) adalah :
a.    Penerimaan dan pembayaran rekening giro;
b.    Dana pelanggan yang dikelola oleh entitas investasi; dan
c.    Sewa yang ditagih oleh pengelola untuk kepentingan dari, dan selanjutnya disetor kepada pemilik properti.
Beberapa contoh penerimaan dan pengeluaran kas sebagaimana dijelaskan pada paragraf 22 (b) adalah pembayaran dan penerimaan untuk :
a.       Jumlah pokok transaksi kartu kredit pada nasabah;
b.      Pembelian dan penjualan investasi ; dan
c.       Pinjaman jangka pendek lain sebagai contoh, pinjaman dengan jangka waktu jatuh tempo dalam 3 (tiga) bulan atau kurang.
24. Arus kas yang berasal dari aktivitas suatu lembaga keuangan berikut ini dapat dilaporkan dengan dasar arus kas bersih :
a.    Penerimaan dan pembayaran kas sehubungan dengan penerimaan dan pembayaran kembali deposito berjangka dengan jatuh tempo yang tetap ;
b.    Penempatan dan penarikan deposito pada dan dari lembaga keuangan lainnya ; dan
c.    Pemberian dan pelunasan uang muka dan pinjaman kepada nasabah.
Arus Kas Dalam Mata Uang Asing
            25. Arus kas yang berasal dari transaksi mata uang asing harus dbukukan dalam mata uang fungsional entitas dengan mengalikan jumlah mata uang asing tersebut dengan nilai tukar antara mata uang fungsional dengan mata uang asing pada tanggal transaksi arus kas.
            26. Arus kas entitas anak diluar negeri dijabarkan berdasarkan nilai tukar antara mata uang fungsional dengan mata uang asing pada tanggal transaksi arus kas.
            27. arus kas dalam mata uang asing dilaporkan dengan cara yang konsisten dengan PSAK 10 : Transaksi dalam mata uang asing. Pernyataan tersebut memperkenankan digunakannya suatu nilai tukar yang mendekati nilai tukar aktual. Sebagai contoh, nilai tukar rat-rat untuk periode yang bersangkutan dapat digunakan untuk membukukan transaksi dalam mata uang asing atau penjabaran arus kas netitas anak diluar negeri. Akan tetapi, PSAK 10 tidak mengizinkan digunakannya nilai tukar pada akhir periode pelaporan untuk menjabarkan laporan arus kas anak entitas luar negeri.
            28. keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi yang timbul akibat perubahan nilai tukar mata uang asing bukan merupakan arus kas. Namun demikian, pengaruh perubahan nilai tukar atas kas dan setara kas dalam mata uangan asing dilaporkan dalam laporan arus kas  untuk merekonsiliasikan saldo awal dan akhir dari kas dan setar kas. Jumlah selisih kurs tersebut disajikan terpisah dari arus kas aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan, dan termasuk perbedaan, jika ada seandainya arus kas tersebut telah dilaporkan dengan nilai tukar pada akhir periode.
Bunga dan Deviden
            29. Arus kas dari bungan dan deviden yang diterima dan dibayarkan, masing-masing harus diungkapkan secara terpisah. Masing-masing harus diklasifikasi secara monsisten antar periode sebagai salah satu dari aktivitas operasi, investasi atau pendanaan.
            30. Jumlah bunga yang dibayar selama suatu periode diungkapkan dalam laporan arus kas baik yang telah diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi maupun yang dikapitalisasi sesuai PSAK No. 26 : Biaya Pinjaman.
31. Jumlah bunga yang dibayar dan bunga serta deviden yang diterima oleh lembaga keuangan biasanya diklasifikasikan sebagai arus kas operasi. Namun demikian, bagi entitaas lainnya belum ada kesepakatan mengenai klasifikasi arus kas ini. Bunga yang dibayarkan dan bungan serta deviden yang deterima dapat diklasifikasi sebagai arus kas operasi karena mempengaruhi laba atau rugi. Sebagai alternatif, bunga yang dibayar dan bunga serta deviden yang diterima dapat diklasifikasi, masing-masing sebagai arus kas pendanaan dan arus kas investasi karena merupakan biaya perolehan sumber daya keuangan atau sebagai hasil investasi (return on investments).
            32. Deviden yang dibayar dapat diklasifikasi sebagai rus kas pendanaan karena merupakan biaya perolehan sumber daya keuangan. Sebagai alternatif, deviden yang dibayar dapat diklasifikasi sebagai komponen arus kas dari aktivitas operasi dengan maksud membantu para pengguna laporan dalam menilai kemampuan entitas membayar deviden dari arus kas operasi.
Pajak Penghasilan
            33. Arus kas yang berkaitan dengan pajak penghasilan harusdiungkapkan secara terpisah dan diklasifi kasi sebagai arus kas dari aktivitas operasi kecuali jika secara spesifik dapat diidentifi kasikan sebagai aktivitas pendanaan dan investasi.
            34. Pajak penghasilan dikenakan atas transaksi yang menghasilkan arus kas yang diklasifi kasikan sebagai aktivitas operasi, investasi, atau pendanaan dalam laporan arus kas. Walaupun beban pajak penghasilan (tax expense) dapat dengan mudah diidentifi kasikan dengan aktivitas investasi atau pendanaan,arus kas yang bersangkutan sering kali tidak mudah diidentifi kasi dan dapat terjadi dalam periode yang berbeda dengan transaksi arus kas yang mendasarinya. Oleh karena itu, pajak yang dibayar biasanya diklasifi kasikan sebagai arus kas dari aktivitas operasi. Namun demikian, jika arus kas pajak tersebut dapat diidentifi kasikan dengan transaksi individual yang menimbulkan arus kas yang bersangkutan, maka arus kas tersebut diklasifi kasi sebagai aktivitas pendanaan atau investasi, sesuai dengan jenis aktivitas tersebut. Apabila arus kas pajak dialokasikan pada lebih dari satu jenis aktivitas, maka jumlah keseluruhan pajak yang dibayar harus diungkapkan.
Investasi Pada Entitas Anak, Entitas Asosiasi, dan Ventura Bersama
            35. Apabila akuntansi untuk investasi pada entitas asosiasi atau entitas anak dibukukan dengan menggunakan metode ekuitas atau metode biaya perolehan, maka investor membatasi pelaporannya dalam laporan arus kas hanya pada arus kas yang terjadi antara investor dan investee, misalnya jumlah dividen dan uang muka yang diterima.
            36. Entitas yang melaporkan kepemilikannya dalam pengendalian bersama entitas (lihat PSAK 12: Bagian Partisipasi Dalam Ventura Bersama) menggunakan konsolidasi proporsional, melaporkan dalam laporan arus kas konsolidasinya bagian proporsional dari arus kas atas entitas yang dikendalikan bersama. Entitas yang melaporkan kepemilikannya menggunakan metode ekuitas melaporkan dalam laporan arus kas, arus kas atas investasinya dalam entitas yang dikendalikan bersama, dan distribusi dan pembayaran lain atau penerimaa antara entitas dan entitas yang dikendalikan bersama.
Perubahan Kepemilikan dalam Entitas Anak dan Unit Bisnis Lainnya
            37. Keseluruhan arus kas yang berasal dari perolehan dan kehilangan pengendalian atas entitas anak atau unit bisnis lainnya harus disajikan secara terpisah dan diklasifikasikan sebagai aktivitas investasi.
            38. Entitas harus mengungkapkan hal-hal berikut secara keseluruhan, sehubungan dengan perolehan dan kehilangan pengendalian atas entitas anak dan unit bisnis lainnya selama satu periode:
(a) jumlah harga yang dibayarkan atau diterima;
(b) bagian dari harga yang merupakan kas dan setara
     kas;
(c) jumlah kas dan setara kas pada entitas anak atau bisnis lainnya dimana pengendalian  diperoleh atau dilepaskan; dan
(d) jumlah aset dan laibilitas selain kas atau setara kas pada entitas anak atau bisnis lainnya dimana pengendalian diperoleh atau dilepaskan, diikhtisarkan berdasarkan kategori utamanya.
            39. penyajian tersendiri pengaruh arus kas dari perolehan dan kehilangan pengendalian atas entitas anak dan bisnis lainnya sebagai suatu pos tunggal, bersama-sama dengan pengungkapan tersendiri atas jumlah aset dan laibilitas yang diperoleh atau dilepaskan, akan membantu membedakan arus kas tersebut dengan arus kas yang berasal dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan lainnya. Pengaruh arus kas atas kehilangan pengendalian tidak boleh dikurangkan dari arus kas untuk memperoleh pengendalian.

40. Jumlah keseluruhan kas yang dibayarkan atau diterima untuk memperoleh atau atas kehilangan pengendalian entitas anak atau bisnis lainnya dilaporkan dalam laporan arus kas, berdasarkan kas dan setara kas bersih dari yang diperoleh atau dilepaskan sebagai bagian dari transaksi, peristiwa atau perubahan lingkungan.

41A. Arus kas yang timbul dari perubahan kepemilikan atas entitas anak karena kehilangan pengendalian harus diklasifikasikan sebagai arus kas dari aktivitas pendanaan.

41B. Perubahan kepemilikan atas entitas anak yang tidak mengakibatkan kehilangan pengendalian, misalnya akibat pembelian atau penjualan kemudian instrumen ekuitas entitas anak oleh entitas induk, dicatat sebagai transaksi ekuitas (lihat PSAK 4: Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri). Sejalan dengan hal tersebut, arus kas yang berasal dari transaksi tersebut diklasifi kasikan dengan cara yang sama sebagai transaksi lain dengan pemilik yang dijelaskan dalam paragraf 17.
Transaksi Nonkas
            42. Transaksi investasi dan pendanaan yang tidak memerlukan penggunaan kas atau setara kas tidak termasuk dalam laporan arus kas. Transaksi semacam itu harus diungkapkan pada bagian lain dalam laporan keuangan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan semua informasi yang relevan mengenai aktivitas investasi dan pendanaan tersebut.
            43. Beberapa aktivitas investasi dan pendanaan tidak memiliki pengaruh langsung terhadap arus kas periode berjalan meskipun mempengaruhi struktur aset serta modal entitas. Tidak dimasukkannya transaksi nonkas dalam laporan arus kas ini konsisten dengan tujuan laporan arus kas sebab transaksi tersebut tidak mempengaruhi arus kas dalam periode berjalan. Beberapa contoh transaksi nonkas adalah:
a.       perolehan aset secara kredit atau melalui sewa pembiayaan (finance Lease) ;
b.      akuisisi entitas melalui emisi saham ; dan
c.       konversi utang menjadi modal.

Komponen Kas dan Setara Kas
            44. Entitas mengungkapkan komponen kas dan setara kas serta menyajikan rekonsiliasi jumlah tersebut dalam laporan arus kas dengan pos yang sama yang disajikan dalam laporan posisi keuangan.
            45. Oleh karena keanekaragaman praktik pengelolaan kas dan perbankan dan agar sesuai dengan PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan, entitas harus mengungkapkan kebijakan dalam menentukan komponen kas dan setara kas.
            46. Pengaruh setiap perubahan dalam kebijakan untuk menentukan komponen kas dan setara kas seperti misalnya perubahan dalam klasifikasi instrumen keuangan yang sebelumnya diperlakukan sebagai bagian dari portofolio investasi entitas, dilaporkan sesuai dengan PSAK 25: Kebijakan Akuntansi,Perubahan Estimasi dan Kesalahan.
Pengungkapan Lain
            47. Entitas mengungkapkan jumlah saldo kas dan setara kas yang signifikan yang tidak dapat digunakan oleh grup usaha, beserta komentar manajemen.
            48. Dalam keadaan tertentu saldo kas dan setara kas yang dimiliki oleh entitas tidak dapat digunakan oleh grup entitas. Misalnya, saldo kas dan setara kas milik entitas anak yang beroperasi di suatu negara yang memberlakukan kontrol lalu lintas devisa atau pembatasan hukum lainnya sehingga saldo kas tersebut tidak dapat digunakan oleh entitas induk atau entitas anak lainnya.
            49. Informasi tambahan yang relevan mungkin berguna dalam memahami posisi keuangan dan likuiditas entitas. Pengungkapan informasi ini, bersama dengan komentar manajemen, dianjurkan dan mencakup:
a.       jumlah fasilitas pinjaman yang belum digunakan yang mungkin tersedia untuk aktivitas operasi masa depan dan untuk menyelesaikan komitmen modal, dengan mengindikasikan pembatasan penggunaan fasilitas ini;
b.      jumlah keseluruhan arus kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan yang terkait dengan kepemilikan dalam ventura bersama yang dilaporkan dengan menggunakan metode konsolidasi proporsional ;
c.       jumlah keseluruhan arus kas yang mencerminkan peningkatan kapasitas operasi yang terpisah dari arus kas yang diperlukan untuk mempertahankan kapasitas operasi dan ;
d.      jumlah arus kas yang timbul dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan dari setiap segmen yang dilaporkan (lihat PSAK 5 : pelaporan segmen).
50. Pengungkapan terpisah arus kas yang mencerminkan peningkatan kapasitas operasi dan arus kas yang diperlukan untuk mempertahankan kapasitas operasi berguna bagi pengguna untuk menentukan apakah entitas melakukan investasi secara memadai dalam pemeliharaan kapasitas operasinya. Entitas yang tidak berinvestasi secara memadai dalam pemeliharaan kapasitas operasinya mungkin akan merugikan profitabilitas dimasa yang akan datang, hanya untuk mempertahankan likuiditas dan distribusi untuk pemilik pada saat ini.
51. Pengungkapan arus kas secara segmen memungkinkan pengguna untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai hubungan antara arus kas bisnis keseluruhan dan komponennya dan ketersediaan serta keragaman arus kas secara segmen.
TANGGAL EFEKTIF
            52. Pernyataan ini diterapkan untuk laporan keuangan yang dimulai atau setelah 1 Januari 2011.


Lampiran A

Laporan Arus Kas Untuk Entitas Bukan Lembaga Keuangan
Lampiran ini melengkapi namun bukan bagian dari pernyataan.
1.      Contoh ini hanya menampilkan jumlah periode kini. Jumlah yang sesuai untuk periode sebelumnya sebelum disajikan sesuai dengan PSAK 1 :Penyajian Laporan Keuangan.
2.      Informasi dari laporan laba rugi komprehensif dan laporan posisi keuangan disajikan untuk memperlihatkan penyusunan laporan arus kas dengan metode langsung dan metode tidak langsung. Laporan laba rugi komprehensif atau laporan posisi keuangan disajikan sesuai dengan persyaratan pengungkapan dan penyajian menurut Pernyataan lainnya.
3.      Informasi tambahan berikut juga relevan untuk penyusunan laporan arus kas:
·         semua saham entitas anak diperoleh dengan harga Rp 590. Nilai wajar aset yang diperoleh dan laibilitas diasumsikan sebagai berikut:
Persediaan                               Rp 100
Piutang usaha                          Rp 100
Kas                                          Rp 40
Aset Tetap                               Rp 650
Utang usaha                            Rp 100
Utang jangka panjang             Rp 200

·         Rp 250 diperoleh dari penerbitan modal saham dan Rp 250 diperoleh dari pinjaman jangka panjang.
·         Beban bunga Rp 400 dan telah dibayar sebesar Rp 170 selama periode tersebut, Rp 100 yang merupakan beban bunga periode sebelumnya juga dibayar selama periode tersebut.
·         Dividen dibayarkan Rp 1.200.
·         Utang pajak pada awal dan akhir periode masing – masing sebesar Rp 400 dan 1000. Selama periode disisihkan Rp 200 untuk tambahan pajak. Pajak yang terutang dari dividen yang diterima berjumlah Rp 100.
·         Selama periode, entitas memperoleh aset tetap dengan harga Rp 1.250, Rp 900 diperoleh dengan sewa. Pembayaran kas sebesar Rp 350 untuk pembelian aset tetap.
·         Pabrik dengan nilai buku Rp 80 dan akumulasi penyusutan Rp 60 dijual harga Rp 20.
·         Piutang usaha pada akhir 20X2 teramsuk Bunga piutang sebesar Rp 100.

Laporan Laba Rugi Komprehensif Konsolodasi untuk periode yang berakhir 20X2
Pendapatan
30.650
Harga Pokok Penjualan
(26.000)
Laba Bruto
4.650
Penyusutan
(450)
Beban administrasi dan penjualan
(910)
Beban bunga
(400)
Penghasilan Investasi
500
Kerugian selisih kurs
(40)
Laba sebelum pajak
3.350
Pajak penghasilan
(300)
Laba
3.050

Entitas tidak mengakui setiap komponen pendapatan komprehensif lain pada periode yang berakhir 20X2






Laporan posisi keuangan konsolidasi pada akhir tahun 20X2

20X2
20X1
Aset


Kas dan setara kas
230
160
Piutang usaha
1.900
1.200
Persediaan
1.000
1.950
Investasi Surat Berharga
2.500
2.500
Aset tetap (harga perolehan)
3.730
1.910
Akumulasi penyusutan
(1.450)
(1.060)
Aset tetap (bersih)
2.280
850
Total asset
7.910
6.660
Liabilitas


Utang usaha
250
1.890
Utang bunga
230
100
Utang pajak penghasilan
400
1.000
Utang jangka panjang
2.300
1.040
Total Kewajiban
3.180
4.030
Ekuitas


Modal saham
1.500
1.250
Saldo laba
3.230
1.380
Total Ekuitas
4.370
2.630
Total liabilitas dan ekuitas
7.910
6.660





Metode langsung laporan arus kas (paragraph 18 (a))

20X2
Arus kas dari aktivitas operasi

Penerimaan kas dari pelanggan
30.150
Pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan
(27.600)
kas yang dihasilkan operasi
2.550
Pembayaran bunga
(270)
Pembayran pajak penghasilan
(900)
Arus kas bersih dari (untuk) aktivitas operasi
1.380


Arus kas untuk aktivitas investasi

Akuisisi entitas anak X dengan kas (catatan A)
(550)
Pembelian asset tetap (catatan B)
(350)
Hasil dari penjualan peralatan
20
Penerimaan bunga
200
Penerimaan deviden
200
Arus kas bersih dari (untuk) aktivitas investasi
(480)


Arus kas dari aktivitas pendanaan

Hasil dari penerbitan modal saham
250
Hasil dari pinjaman jangka panjang
250
Pembayaran utang sewa pembiayaan
(90)
Pembayaran deviden
(1.200)
Arus kas bersih dari (untuk) aktivitas pendanaan)
(790)
Kenaikan bersih kas dan setara kas
110
Kas dan setara kas pada awal periode
120
Hal ini dapat juga dilaporkan sebagai arus kas operasi
230

Metode tidak langsung pernyataan arus kas (paragraph 18 (b))

20X2
Arus kas dari aktivitas operasi

Laba sebelum pajak
3.350
Penyesuaian untuk:

Penyusutan
450
Kerugian selisih kurs
40
Pendapatan investasi
(500)
Beban bunga
400
Kenaikan piutang usaha dan piutang lain
(500)
Penurunan persediaan
1.050
Penurunan utang usaha
(1.740)
Kas yang dihasilkan dari operasi
2.550
Pembayaran bunga
(270)
Pembayaran pajak penghasilan
(900)
Arus kas (bersih) dari aktivitas operasi)
1.380


Arus kas dari aktivitas pendanaan

Hasil dari penerbitan modal saham
250
Hasil dari pinjaman jangka panjang
250
Pembayaran utang sewa pembiayaan
(90)
Pembayaran dividen
(1.200)
Arus kas bersih dari (untuk) aktivitas pendanaan )
(790)
Kenaikan bersih kas dan setara kas
110
Kas dan setara kas pada awal periode (catatan c)
120
Kas dan setara kas pada akhir periode (catatan c)
230
hal ini dapat juga dilaporkan sebagai arus kas operasi


Catatan pada laporan arus kas (metode langsung dan metode tidak langsung)
a.      Perolehan pengendalian atas entitas anak
Selama periode ini entitas memperoleh pengendalian atas entitas anak X. Nilai wajar aset yang diperoleh dan kewajiban diasumsikan sebagai berikut:
Kas                                          40
Persediaan                               100
Piutang usaha                          100
Aset tetap                                650
Utang usaha                             (100)
Utang jangka panjang              (200)
Total harga beli                        590
Dikurangi: Kas dari X             (40)
Arus kas bersih untuk
Memperoleh pengendalian      550


                  B.        Aset tetap
Selama periode ini, entitas memperoleh aset tetap dengan nilai total Rp 1.250 dimana Rp 900 diantaranya diperoleh melalui sewa pembiayaan. Pembayaran kas untuk perolehan ini adalah sebesar Rp 350.

                C. Kas dan setara kas
Kas dan setara kas terdiri dari kas di tangan dan saldo bank, serta investasi dalam instrumen pasar uang. Kas dan setara kas dalam laporan arus kas meliputi jumlah-jumlah dalam laporan posisi keuangan berikut ini:

20X2   20X1
Kas dan bank                                                  40        25
Investasi jangka pendek                                  190      135
Kas dan setara kas yang
dilaporkan sebelumnya                                   230      160
Pengaruh perubahan nilai tukar valuta             -          (40)
Kas dan setara kas dinyatakan kembali          230      120

Kas dan setara kas pada akhir periode meliputi rekening deposito bank sebesar Rp 100 yang dipegang oleh entitas anak dan tidak dapat digunakan dengan bebas oleh holding company karena adanya pembatasan arus valuta.

Kelompok entitas ini mempunyai fasilitas pinjaman sebessar Rp 2,000, Rp 700 diantaranya hanya dapat digunakan untuk ekspansi dimasa depan.

D. Informasi segmen
                                    Segmen A Segmen B Total
Arus kas dari:
Aktivitas operasi           1.520       (140)       1.380
Aktivitas investasi         (640)        160            (480)
Aktivitas pendanaan     (570)       (220)        (790)
   310        (200)         110


Alternatif penyajian (metode tidak langsung)
Sebagai alternatif, dalam laporan arus kas dengan metode tidak langsung, laba operasi sebelum perubahan modal kerja kadang-kadang disajikan sebagai berikut:




                                    Lampiran B
                           Laporan Arus Kas Untuk Lembaga Keuangan
                           Lampiran ini hanya pelengkap, namun bukan bagian dari Pernyataan.
1.             Contoh ini hanya memperlihatkan jumlah periode berjalan. Jumlah yang menyangkut periode sebelumnya harus disajikan  sesuai dengan PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan.
2.       Contoh disajikan menggunakan metode langsung.

                           

                              




  



PSAK 14 - PERSEDIAAN
PENDAHULUAN
TUJUAN
01.  Tujuan pernyataan ini adalah mengatur perlakuan akuntansi untuk persediaan. Permasalahan pokok dalam akuntansi persediaan adalah penentuan jumlah biata yang diakui sebagai asset tersebut sampai pendapatan terkait diakui. Pernyataan ini menyediakan panduan dalan menentukan biaya dan penyakuan selanjutnya sebagai beban, termasuk setiap penuruanan menjadi nilai ralisasi neto. Pernyataan ini juga memberikan panduan rumus biaya yang digunakan untuk enentukan biaya persediaan.
RUANG LINGKUP
02.  Pernyataan ini diterapkan untuk semua persediaan, kecuali:
(a)    Pekerjaan dalam proses yang timbul dalam kontrak konstruksi, termasuk kontrak jasa yang terkait langsung (lihat PSAK 34: Akuntansi Kontrak Konstruksi);
(b)   Persediaan yang terkait dengan real eatate (lihat PSAK 44: Akuntansi Aktivitas Perkembangan Real Estat);
(c)    Instrumen keuangan (lihat PSAK 50: Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan dan PSAK Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran);
(d)   Aset biolojik terkait dengan aktivitas agrikultur dan produk agrikultur pada saat panen;
(e)    Aset biolojik terkait dengan hasil hutan (lihat PSAK 32: Akuntansi Kehutanan); dan hasil tambang umum dan hasil tambang minyak dan gas bumi (lihat PSAK 33: Akuntansi Pertambangan Umum dan PSAK 29: Akuntansi Minyak dan Gas Bumi).
03.  Pernyataaan ini tidak berlaku untuk pengukuran persediaan bagi pialang-pedagang komoditi yang mengukur persediaannya pada nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk menjual, sesuai dengan praktik yang berlaku pada industri. Ketika persediaan tersebut diukur pada nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk menjual, maka perubahan nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk menjual diakui dalam laporan laba rugi pada periode terjadinya.
04.  Pialang-pedagang adalah mereka yang membeli atau menjual komoditi untuk orang lain atau dirinya sendiri. Persediaan pialang-pedagang terutama diperoleh dengan tujuan untuk dijual dalam waktu dekat dan memperoleh laba dari fluktuasi harga atau marjin. Ketika persediaan ini diukur dengan nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk menjual, maka yang dikecualikan hanya dari persyaratan pengukuran dalam Pernyataan ini.
DEFINISI
05.  Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini:
Persediaan adalah aset:
(a)    tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa;
(b)   dalam proses produksi untuk penjualan tersebut; atau
(c) dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.

Nilai realisasi neto adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan.

Nilai wajar adalah jumlah di mana suatu asset dipertukarkan, atau kewajiban diselesaikan, antara pihak yang berpengetahuan dan berkeinginan dalam suatu
transaksi yang wajar.

Komoditi adalah barang dagangan yang menjadi subjek kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa berjangka.


Nilai khusus-entitas adalah nilai kini dari arus kas yang diharapkan oleh suatu entitas yang timbul dari penggunaan aset berkelanjutan dan dari pelepasannya pada akhir umur manfaat atau yang diharapkan terjadi ketika penyelesaian kewajiban.

06.  Nilai realisasi neto mengacu kepada jumlah neto yang entitas berharap untuk direalisasi dari penjualan persediaan dalam kegiatan usaha biasa. Nilai wajar mencerminkan suatu jumlah di mana persediaan yang sama dapat dipertukarkan
antara pembeli dan penjual yang berpengetahuan dan berkeinginan di pasar. Nilai realisasi neto adalah nilai khusus entitas sedangkan nilai wajar tidak tergantung pada nilai khusus entitas. Nilai realisasi neto untuk persediaan bisa tidak sama dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual.

07.  Persediaan meliputi barang yang dibeli dan dimiliki untuk dijual kembali, misalnya, barang dagangan yang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali, atau pengadaan tanah dan properti lainnya untuk dijual kembali. Persediaan juga mencakupi barang jadi yang diproduksi, atau barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi, oleh entitas serta termasuk bahan serta perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi. Bagi perusahaan jasa, persediaan meliputi biaya jasa seperti diuraikan dalam paragraf 18, di mana entitas belum mengakui pendapatan yang terkait (lihat PSAK 23: Pendapatan).

PENGUKURAN PERSEDIAAN

08. Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah.

Biaya Persediaan

09. Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini.

Biaya Pembelian

10. Biaya pembelian persediaan meliputi harga beli, bea impor, pajak lainnya (kecuali yang kemudian dapat ditagih kembali oleh entitas kepada otoritas pajak), biaya pengangkutan, biaya penanganan, dan biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan, dan jasa. Diskon dagang, rabat dan hal lain yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian.

Biaya Konversi

11. Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan unit yang diproduksi, misalnya biaya tenaga kerja langsung. Termasuk juga alokasi sistematis overhead produksi tetap dan variabel yang timbul dalam mengonversi bahan menjadi barang jadi. Overhead produksi tetap adalah biaya produksi tidak langsung yang relatif konstan, tanpa memerhatikan volume produksi yang dihasilkan, seperti penyusutan dan pemeliharaan bangunan dan peralatan pabrik, dan biaya manajemen dan administrasi pabrik. Overhead produksi variable adalah biaya produksi tidak langsung yang berubah secara langsung, atau hampir secara langsung,mengikuti perubahan volume produksi, seperti bahan tidak langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung.

12. Pengalokasian overhead produksi tetap ke biaya konversi didasarkan pada kapasitas fasilitas produksi normal. Kapasitas normal adalah produksi rata-rata yang diharapkan akan tercapai selama suatu periode atau musim dalam keadaan normal, dengan memerhitungkan hilangnya kapasitas selama pemeliharaan terencana. Tingkat produksi aktual dapat digunakan jika mendekati kapasitas normal. Pengalokasian jumlah overhead produksi tetap pada setiap unit produksi tidak bertambah sebagai akibat dari rendahnya produksi atau tidak terpakainya pabrik. Overhead yang tidak teralokasi diakui sebagai beban pada periode terjadinya. Dalam periode produksi tinggi yang tidak normal, jumlah overhead tetap yang dialokasikan pada tiap unit produksi menjadi berkurang sehingga persediaan tidak diukur di atas biayanya. Overhead produksi variabel dialokasikan pada unit produksi atas dasar penggunaan aktual fasilitas produksi.

13. Suatu proses produksi mungkin menghasilkan lebih dari satu jenis produk secara simultan. Hal tersebut terjadi, misalnya, ketika dihasilkan produk bersama atau bila terdapat produk utama dan produk sampingan. Ketika biaya konversi tidak dapat diidentifikasi secara terpisah, maka biaya tersebut dialokasikan antar produk secara rasional dan konsisten. Pengalokasian dapat didasarkan pada, misalnya, perbandingan harga jual untuk masing masing produk, baik pada tahap proses produksi pada waktu produk telah dapat diidentifikasikan secara terpisah atau pada saat produksi telah selesai. Sebagian besar produk sampingan, pada hakekatnya tidak material. Ketika kasusnya demikian, produk sampingan sering kali diukur pada nilai realisasi neto dan nilai tersebut dapat mengurangi biaya produk utama. Dengan demikian, jumlah tercatat produk utama tidak berbeda secara material dari biayanya.

Biaya-biaya Lain

14. Biaya-biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang biaya tersebut timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Misalnya, dalam keadaan tertentu diperkenankan untuk memasukkanoverhead nonproduksi atau biaya perancangan produk untuk pelanggan tertentu sebagai biaya persediaan.

15. Contoh biaya-biaya yang dikeluarkan dari biaya persediaan dan diakui sebagai beban dalam periode terjadinya adalah:
(a) jumlah pemborosan bahan, tenaga kerja, atau biaya produksi lainnya yang tidak normal;
(b) biaya penyimpanan, kecuali biaya tersebut diperlukan dalam proses produksi sebelum dilanjutkan pada tahap produksi berikutnya;
(c) biaya administrasi dan umum yang tidak memberikan kontribusi untuk membuat persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini; dan
(d) biaya penjualan.

16. PSAK 26: Biaya Pinjaman menentukan kondisi terbatas di mana biaya pinjaman termasuk dalam biaya persediaan.

17. Entitas mungkin membeli persediaan dengan persyaratan penyelesaian tangguhan (deferred settlement terms). Ketika perjanjian secara efektif mengandung elemen pembiayaan, maka elemen tersebut, misalnya perbedaan antara harga beli untuk persyaratan kredit normal dan jumlah yang dibayarkan diakui sebagai beban bunga selama periode pembiayaan.

Biaya Persediaan Pemberi Jasa

18. Sepanjang pemberi jasa memiliki persediaan, mereka mengukur persediaan tersebut pada biaya produksinya. Biaya persediaan tersebut terutama meliputi biaya tenaga kerja dan biaya personalia lainnya yang secara langsung menangani pemberian jasa, termasuk personalia penyelia, danoverhead yang dapat diatribusikan. Biaya tenaga kerja dan biaya lainnya yang terkait dengan personalia penjualan dan administrasi umum tidak termasuk sebagai biaya persediaan tetapi diakui sebagai beban pada periode terjadinya. Biaya persediaan pemberi jasa tidak termasuk marjin laba atau overhead yang tidak dapat diatribusikan yang sering merupakan faktor pembebanan harga oleh pemberi jasa.

Teknik Pengukuran Biaya

19. Teknik pengukuran biaya persediaan, seperti metode biaya standar atau metode eceran, demi kemudahan dapat digunakan jika hasilnya mendekati biaya. Biaya standar memperhitungkan tingkat normal penggunaan bahan dan perlengkapan, tenaga kerja, efisiensi dan utilisasi kapasitas. Biaya standar di-review secara reguler dan, jika diperlukan, direvisi sesuai dengan kondisi terakhir.

20. Metode eceran seringkali digunakan dalam industry eceran untuk menilai persediaan dalam jumlah besar item yan berubah dengan cepat, dan memiliki marjin yang sama di mana tidak praktis untuk menggunakan metode penetapan biaya lainnya. Biaya persediaan ditentuk ditentukan dengan mengurangi nilai jual persediaan dengan persentase marjin bruto yang sesuai.
Persentase tersebut digunakan dengan memerhatikan persediaan yang telah diturunkan nilainya di bawah harga jual normal. Persentasi rata-rata sering digunakan untuk setiap departemen eceran.

Rumus Biaya
21. biaya persediaan untuk item yang biasanya tidak dapat diganti dengan barang lain (not ordinary interchangeable) dan barang atau jasa yang dihasilkan dan dipisahkan untuk proyek tertentu harus diperhitungkan berdasarkan identifikasi spesifik terhadap biayanya masing masing.
22. identifikasi spesifik biaya artinya biaya-biaya spesifik didistribusikan ke item persediaan tertentu. Cara ini merupakan perlakuan yang sesuai bagi item yang dipisahkan untuk proyek tertentu, baik yang dibeli maupun yang dihasilkan. Namun demikian, identifikasi spesifikasi biaya tidak tepat ketika terdapat julah besar item dalam persediaan yang dapat menggantikan satu sama lain (ordinary interchangeable). Dalam keadaan demikian, metode pemilihan item yang masih berada dalam persediaan dapat digunakan untuk menentukan di muka dampaknya dalam laporan laba rugi.
23. Biaya persediaan, kecuali yang disebut dalam paragraf 21, harus dihitung dengan menggunakan rumus biaya masuk pertama keluar pertama (MPKP) atau ratarata tertimbang. Entitas harus menggunakan rumus biaya yang sama terhadap semua persediaan yang memiliki sifat dan kegunaan yang sama. Untuk persediaan yang memiliki sifat dan kegunaan yang berbeda, rumusan biaya yang berbeda diperkenankan.
24. Misalnya, persediaan yang digunakan dalam suatu operasi segmen mungkin memiliki kegunaan yang berbeda dari jenis persediaan yang sama yang digunakan dalam operasi segmen yang lain. Namun demikian, perbedaan lokasi geografis persediaan (atau dalam perspektif perpajakan), dengan sendirinya, tidak cukup hanya sekedar menggunakan rumus biaya yang berbeda.
25. Formula MPKP mengasumsikan item persediaan yang pertama dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga item yang tertinggal dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian. Dalam rumus biaya ratarata tertimbang, biaya setiap item ditentukan berdasarkan biaya rata-rata tertimbang dari item yang serupa pada awal periode dan biaya item yang serupa yang dibeli atau diproduksi selama suatu periode. Perhitungan rata-rata dapat dilakukan secara berkala atau pada setiap penerimaan kiriman, tergantung pada keadaan entitas.

Nilai Realisasi Neto
26. Biaya persediaan mungkin tidak akan diperoleh kembali jika persediaan rusak, seluruh atau sebagian persediaan telah usang, atau harga jualnya telah menurun. Biaya persediaan juga tidak akan diperoleh kembali jika estimasi biaya penyelesaian atau estimasi biaya untuk membuat penjualan telah meningkat. Praktek penurunan nilai persediaan di bawah biaya menjadi nilai realisasi neto konsisten dengan pandangan bahwa aset seharusnya tidak dinyatakan melebihi perkiraan jumlah yang dapat direalisasi dari penjualan atau penggunaannya.
27. Nilai persediaan biasanya diturunkan ke nilai realisasi neto secara terpisah untuk setiap item dalam persediaan. Namun demikian, dalam beberapa kondisi, penurunan nilai persediaan mungkin lebih sesuai jika dihitung terhadap kelompok item yang serupa atau berkaitan. Misalnya barang-barang yang termasuk dalam lini produk dengan tujuan atau penggunaan akhir yang serupa, yang diproduksi dan dipasarkan di wilayah yang sama, dan tidak dapat dievaluasi terpisah dari item-item lain dalam lini produk tersebut. Penurunan nilai persediaan tidak tepat jika dihitung berdasarkan klasifikasi persediaan, misalnya, barang jadi, atau seluruh persediaan dalam suatu industri atau segmen geografis tertentu. Pemberi jasa pada umumnya mengakumulasikan biaya-biaya untuk setiap jasa di mana harga jual terpisah ditentukan. Dengan demikian, masing-masing jasa tersebut diperlakukan secara terpisah.
28. Estimasi nilai realisasi neto didasarkan pada bukti paling andal yang tersedia pada saat estimasi dilakukan terhadap jumlah persediaan yang diharapkan dapat direalisasi. Estimasi ini memertimbangkan fluktuasi harga atau biaya yang langsung terkait dengan peristiwa yang terjadi setelah akhir periode sepanjang peristiwa tersebut menegaskan kondisi yang ada pada akhir periode.
29. Estimasi nilai realisasi neto juga mempertimbangkan tujuan pengadaan persediaan yang dimiliki. Misalnya, nilai realisasi neto dari jumlah persediaan yang dimiliki untuk memenuhi kontrak penjualan atau jasa yang bersifat pasti didasarkan pada harga kontrak. Jika kontrak penjualan lebih sedikit daripada jumlah persediaan yang dimiliki, maka nilai realisasi neto untuk kelebihannya didasarkan pada harga jual umum. Penyisihan dapat timbul dari kontrak penjualan yang bersifat pasti yang melebihi jumlah persediaan yang dimiliki atau dari kontrak pembelian yang bersifat pasti. Penyisihan tersebut diperlakukan sesuai dengan PSAK 57: Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi dan Aset Kontinjensi.
30. Bahan dan perlengkapan lain yang dimiliki untuk digunakan dalam memroduksi persediaan tidak diturun nilainya di bawah biaya jika produk jadi yang dihasilkan diharapkan dapat dijual sebesar atau di atas biayanya. Namun demikian, ketika penurunan harga bahan mengindikasikan biaya produk jadi yang dihasilkan akan melebihi nilai realisasi neto, maka nilai bahan diturunkan ke nilai realisasi neto. Dalam kondisi semacam itu, biaya penggantian bahan merupakan ukuran terbaik yang tersedia untuk nilai realisasi netonya.
31. Pengujian yang baru dilakukan atas nilai realisasi neto pada setiap periode berikutnya. Ketika kondisi yang semula mengakibatkan penurunan nilai persediaan di bawah biaya ternyata tidak ada lagi atau ketika terdapat bukti yang jelas terhadap peningkatan nilai realisasi neto karena perubahan keadaan ekonomi, maka jumlah penurunan nilai harus dibalik (dalam hal ini pemulihan adalah terbatas untuk jumlah penurunan nilai awal) sehingga jumlah tercatat yang baru dari persediaan adalah yang terendah dari biaya atau nilai realisasi neto yang telah direvisi. Hal ini terjadi, misalnya, ketika suatu item dalam persediaan yang dicatat sebesar nilai realisasi neto karena harga jualnya telah turun, masih dimiliki pada periode berikutnya dan harga jualnya telah meningkat.

Pengakuan sebagai Beban
32. Jika persediaan dijual, maka nilai tercatat persediaan tersebut harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut. Setiap penurunan nilai persediaan di bawah biaya menjadi nilai realisasi neto dan seluruh kerugian persediaan harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut. Setiap pemulihan kembali penurunan nilai persediaan karena peningkatan kembali nilai realisasi neto, harus diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban persediaan pada periode terjadinya pemulihan tersebut.
33. Beberapa persediaan dialokasikan ke pos aset lainnya, misalnya, persediaan yang digunakan sebagai komponen aset tetap yang dibangun sendiri. Persediaan yang dialokasikan ke aset lain dengan cara ini diakui sebagai beban selama masa manfaat aset tersebut.

PENGUNGKAPAN
34. Laporan keuangan harus mengungkapkan:
(a)    kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan, termasuk rumus biaya yang digunakan;
(b)   total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut klasifikasi yang sesuai bagi entitas;
(c)    jumlah tercatat persediaan yang dicatat dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual;
(d)   jumlah persediaan yang diakui sebagai beban selama periode berjalan;
(e)    jumlah setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 32;
(f)    jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 32;
(g)   kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan yang diturunkan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 32; dan
(h)   nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban.
35. Informasi tentang jumlah tercatat yang disajikan dalam berbagai klasifikasi persediaan dan tingkat perubahannya masing-masing berguna bagi pemakai laporan keuangan. Klasifikasi persediaan yang biasa digunakan adalah barang dagangan, perlengkapan produksi, bahan, barang dalam penyelesaian, dan barang jadi. Persediaan dalam pemberi jasa biasanya disebut pekerjaan dalam penyelesaian.
36. Biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode, seringkali disebut sebagai beban pokok penjualan, meliputi biaya-biaya yang sebelumnya diperhitungkan dalam pengukuran persediaan yang saat ini telah dijual, overhead produksi yang tidak teralokasi, dan jumlah biaya produksi persediaan yang tidak normal. Kondisi tertentu dari entitas juga memungkinkan untuk memasukkan biaya lainnya, seperti biaya distribusi.
37. Beberapa entitas mengadopsi suatu format laporan laba rugi yang mengakibatkan jumlah yang diungkapkan adalah selain biaya persediaan yang diakui sebagai beban selamaperiode yang bersangkutan. Dalam format ini, entitas menyajikan analisa beban menggunakan klasifikasi berdasarkan sifat dari beban. Dalam kasus ini, entitas mengungkapkan biaya yang diakui sebagai beban untuk bahan baku dan bahan habis pakai, biaya tenaga kerja, dan biaya lainnya bersama-sama dengan jumlah perubahan neto persediaan pada periode tersebut.

TANGGAL EFEKTIF
38. Entitas menerapkan Pernyataan ini untuk laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2009. Penerapan lebih dini dianjurkan.

PENARIKAN
39. Pernyataan ini menggantikan PSAK 14 (1994): Persediaan



PSAK 17 – AKUNTANSI PENYUSUTAN
PENDAHULUAN
TUJUAN

Alokasi biaya yang tepat harus dilakukan diantara berbagai pos aktiva dan beban (misalnya dalam penetapan unsure harga perolehan property, pabrik dan peralatan atau biaya pemeliharaan) karena akan mempengaruhi perhitungan laba untuk serangkaian periode akuntansi. Demikian pula, biaya umum (common cost) yang berkenaan dengan lebih dari satu aktivitas harus di distribusikan dengan tepat menururt dasar pembebanan yang layak, seperti faktor waktu atau faktor penggunaan.
Tujuan dari pernyataan ini adalah mengatur tentang pembebanan penyusutan aktiva yang dapat disusutkan. Masalah utama dalam akuntansi penyusutan suatu aktiva adalah penentuan jumlah yang dapat disusutkan, metode penyusutan dan penentuan masa manfaat ke ekonomian.

RUANG LINGKUP

01.   Pernyataan ini menyangkut akuntansi penyusutan dan diterapkan untuk seluruh aktiva yang dapat disusutkan kecuali :
(a)    Hutan dan sumber daya alam serupa yang dapat diperbaharui
(b)   Pengeluaran eksplorasi dan penggalian mineral, minyak, gas alam dan sumber daya alam serupa yang tidak dapat diperbaharui
(c)    Pengeluaran riset dan pengembangan
(d)   Goodwill


DEFINISI

02.   Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam pernyataan ini :

Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Penyusutan untuk periode akuntansi dibebankan ke pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Aktiva yang dapat disusutkan adalah aktiva yang :
(a)    Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi
(b)   Memiliki suatu masa manfaat yang terbatas
(c)    Ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau memasok barang dan jasa, untuk disewakan, atau untuk tujuan administrasi.

Masa manfaat adalah :
(a)    Periode suatu aktiva diharapkan digunakan oleh perusahaan
(b)   Jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aktiva oleh perusahan.
Jumlah yang dapat disusutkan (depreciable amount) adalah biaya perolehan suatu aktiva, atau jumlah lain yang disubstitusikan untuk biaya dalam laporan keuangan dikurangi nilai sisanya.
Penghapusan aktiva adalah penghapusan nilai buku suatu aktiva yang dilakukan apabila nilai buku yang tercantum tidak lagi menggambarkan manfaat dari aktiva yang bersangkutan. Penghapusan aktiva berbeda dengan penyusutan.

PENJELASAN

03.   Aktiva yang dapat disusutkan seringkali merupakan bagian signifikan aktiva perusahaan. Penyusutan karenanya dapat berpengaruh secara signifikan dalam menentukan dan menyajikan posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan.
04.   Pandangan pertama menyatakan bahwa jika nilai dari suatu aktiva telah meningkat melampaui jumlah tercatat (carrying amount) dalam laporan keuangan, adalah tidak perlu untuk membebankan penyusutan. Pandangan kedua menyatakan bahwa penyusutan harus dibebankan pada setiap periode akuntansi berdasarkan jumlah yang disusutkan tanpa memandang kenaikan nilai jual kembali aktiva.

MASA MANFAAT

05.   Estimasi dari masa manfaat suatu aktiva yang dapat disusutkan atau suatu kelompok aktiva serupa yang dapat disusutkan adalah suatu masalah pertimbangan yang biasanya berdasarkan pengalaman dengan jenis aktiva yang serupa. Untuk suatu aktiva yang menggunakan teknologibaru atau yang digunakan dalam produksi suatu produk baru atau yang digunakan dalam pemberian suatu jasa baru dan hanya sedikit pengalaman mengenai jasa tersebut, estimasi masa manfaat lebih sulit namun tetap dibutuhkan.
06.   Masa manfaat dari suatu aktiva yang dapat disusutkan untuk suatu perusahaan mungkin lebih pendek daripada usia fisiknya. Sebagai tambahan terhadap aus dan kerusakan fisik (physical wear and tear) yang tergantung pada faktor operasional (seperti frekuensi penggunaan aktiva, program perbaikan dan pemeliharaan), faktor-faktor lain juga perlu dipertimbangkan. Faktorfaktor tersebut termasuk keusangan yang timbul dari perubahan teknologi atau perbaikan dalam produksi, keusangan yang timbul dari perubahan dalam permintaan pasar terhadap output produk atau jasa dari aktiva, dan pembatasan hukum seperti tanggal batas penggunaan.



NILAI SISA

07.   Nilai sisa suatu aktiva seringkali tidak signifikan dan dapat diabaikan dalam penghitungan jumlah yang dapat disusutkan. Jika nilai sisa signifikan, nilai tersebut diestimasi pada tanggal perolehan atau pada tanggal dilakukannnya evaluasi aktiva (hanya mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah), berdasarkan nilai yang dapat direalisasikan pada tanggal tersebut untuk aktiva yang sama yang telah mencapai akhir masa manfaatnya dan beroperasi dalam kondisi yang hampir sama dengan aktiva yang akan digunakan. Nilai sisa kotor selalu dikurangi dengan harapan biaya penglepasan pada akhir masa manfaat suatu aktiva.

METODE PENYUSUTAN

08.   Jumlah yang dapat disusutkan dialokasi ke setian periode akuntansi selama masa manfaat aktiva dengan berbagai metode yang sistematis. Metode manapun yang dipilih, konsistensi dalam penggunaannya adalah perlu, tanpa memandang tingkat profitabilitas perusahaan dan pertimbangan perpajakan, agar dapat menyediakan daya banding hasil operasi perusahaan dari periode ke periode.
09.   Penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat dikelompokkan menurut kriteria berikut:
(a)    Berdasarkan waktu :
(i)                 Metode garis lurus (straight-line method)
(ii)               Metode pembebanan yang menurun
·            Metode jumlah angka tahun (sum of the years digit method)
·            Metode saldo menurun/saldo menurun ganda (declining/double declining balance method)

(b)   Berdasarkan penggunaan :
(i)                 Metode jam jasa (service hours method)
(ii)               Metode jumlah unit produksi (productive output method)
(c)    Berdasarkan kriteria lainnya :
(i)                 Metode berdasarkan jenis dan kelompok (group and composite method)
(ii)               Metode anuitas (annuity method)
(iii)             Sistem persediaan (inventory systems)

TANAH DAN BANGUNAN

10.   Tanah biasanya memiliki masa manfaat yang tidak terbatas dan biasanya tidak dianggap sebagai suatu aktiva yang dapat disusutkan. Namun, tanah yang memiliki masa manfaat terbatas bagi perusahaan diperlakukan sebagai aktiva yang dapat disusutkan.
11.   Bangunan merupakan aktiva yang dapat disusutkan sesuai definisi dalam paragraf 2.

PENGUNGKAPAN

12.   Pemilihan suatu metode alokasi dan estimasi masa manfaat suatu aktiva yang dapat disusutkan adalah merupakan masalah pertimbangan. Pengungkapan metode yang digunakan dan estimasi masa manfaat atau tingkat penyusutan yang digunakan menyediakan bagi para pemakai laporan keuangan informasi yang membuat mereka dapat menelaah kebijakan yang dipilih manajemen dan dapat membuat perbandingan dengan perusahaan lain. Untuk alasan serupa, adalah perlu untuk mengungkapkan jumlah yang dapat disusutkan yang dialokasikan daiam suatu periode dan akumulasi penyusutan pada akhir periode tersebut.
PERNYATAAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.17 terdiri dari paragraf 13-18. Standar ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1-12.

13.   Jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aktiva dialokasi berdasar suatu dasar sistematis dan beralasan selama masa manfaat tersebut.
14.   Metode penyusutan yang dipilih harus digunakan secara konsisten dari periode ke periode kecuali perubahan keadaan yang memberi alasan atau dasar suatu perubahan metode. Dalam suatu periode akuntansi di mana metode penyusutan berubah, pengaruh perubahan harus dikuantifikasikan dan harus diungkapkan. Alasan perubahan harus diungkapkan.
15.   Masa manfaat dari suatu aktiva yang dapat disusutkan harus diestimasi setelah mempertimbangkan faktor berikut:
(a)    taksiran aus dan kerusakan fisik (physical wear and tear)
(b)   keusangan
(c)    pembatasan hukum atau lainnya atas penggunaan aktiva.
16.   Masa manfaat dari aktiva yang dapat disusutkan harus ditinjau secara periodik dan persentase penyusutan disesuaikan untuk periode sekarang dan yang akan datang jika terdapat perbedaan besar dari estimasi sebelumnya. Pengaruh perubahan harus diungkapkan dalam periode akuntansi di mana perubahan terjadi .
17.   Pengungkapan tentang penyusutan merujuk kepada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.16 tentang Aktiva Tetap.

TANGGAL EFEKTIF

18.   Standar Akuntansi Keuangan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995
sumber : 
http://silviamarlina.blogspot.com

Jumat, 09 Januari 2015

REVIEW JURNAL GCG VS ETIKA PROFESI AKUNTANSI

Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Perusahaan
Tri Purwani
Fakultas Ilmu Komputer Universitas AKI
Peran penting penerapan Good Corporate Governance dapat dilihat dari sisi salah satu tujuan penting didalam mendirikan sebuah perusahaan yang selain untuk meningkatkan kesejahteraan pemiliknya atau pemegang saham, juga untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham melalui peningkatan nilai perusahaan
(Brigham dan Houston, 2001). Peningkatan nilai perusahaan tersebut dapat dicapai jika perusahaan mampu beroperasi dengan mencapai laba yang ditargetkan.
Prinsip-prinsip dasar good corporate governance ini diharapkan dapat dijadikan titik acuan bagi para regulator (pemerintah) dalam membangun framework bagi penerapan good corporate governance. Bagi para pelaku usaha dan pasar modal, prinsip-prinsip ini dapat menjadi guidance atau pedoman dalam mengelaborasi best practices bagi peningkatan nilai dan kelangsungan hidup perusahaan. Sedangkan prinsip-prinsip dasar penerapan good corporate governance yang dikemukakan oleh Center for Good Corporate Governance Universitas Gadjah Mada (CGCG-UGM) dalam (Warsono,dkk.,2009) adalah sebagai berikut:
a. Transparency (Transparansi); dalam menjalankan fungsinya, semua partisipan harus menyampaikan informasi yang material sesuai dengan substansi yang sesungguhnya dan menjadikan informasi tersebut dapat diakses dan dipahami secara mudah oleh pihak-pihak lain yang berkepentingan.
b. Accountability (Pertanggungjawaban); dalam menjalankan fungsinya, setiap partisipan CG harus mempertanggungjawabkan amanah yang diterima sesuai dengan hukum, peraturan, standar moral dan etika, maupun best practise yang berterima umum.
c. Responsiveness (Ketanggapan); dalam menjalankan fungsinya, setiap partisipan CG harus tanggap dan antisipatif terhadap permintaan (request) maupun umpan-balik (feedback) dari pihak-pihak yang berkepentingan dan terhadap perubahanperubahan dunia usaha yang berpengaruh signifikan terhadap perusahaan.
d. Independency (Independensi); dalam menjalankan fungsinya, setiap partisipan harus bebas dari kepentingan pihakpihak lain yang berpotensi memunculkan konflik kepentingan, dan menjalankan fungsinya sesuai dengan kompetensi yang memadai.
e. Fairnes (Keadilan); dalam menjalankan fungsinya, setiap partisipan memperlakukan pihak lain berdasarkan ketentuanetentuan yang berterima umum.secara adil
kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dalam penelitian ini maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Penerapan good corporate governance tidak berpengaruh secara langsung terhadap kinerja perusahaan dengan alat ukur EVA Momentum. Hal ini berarti tidak konsisten dengan teori yang  menyatakan bahwa penerapan good corporate governance berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan, yang kemudian disebut dengan anomali.
2. Beberapa faktor yang dapat dikemukakan dari adanya anomaly tersebut antara lain:
a. Manfaat yang dapat dirasakan dari penerapan GCG bersifat long term atau jangka panjang, sedangkan nilai EVA Momentum merupakan ukuran kinerja pada satu periode tertentu, dengan demikian pengaruhnya tidak dapat dilihat secara langsung.
b. Banyak perusahaan yang masih menerapkan prinsip GCG hanya karena dorongan regulasi. Prinsip-prinsip GCG belum menjadi kultur dalam perusahaan dan belum dimanfaatkan hingga pada tingkat penunjang kinerja perusahaan secara signifikan dan dalam menilai kinerja perusahaan.
c. Sistem birokrasi dan penegakan hokum yang masih sangat buruk di Indonesia, serta pemberantasan korupsi yang lemah semakin mendukung kurangnya keseriusan perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam menerapkan Good Corporate Governance.
d. EVA Momentum masih sangat jarang dipakai oleh perusahaan di Indonesia mengingat EVA Momentum baru diperkenalkan pada tahun 2009. Dalam perhitungan nilai EVA Momentum, terdapat banyak aspek yang selama ini tidak diperhitungkan dalam rasio-rasio keuangan konvensional yang selama ini dipakai untuk mengukur kinerja perusahaan.
sumber : www.unaki.ac.id/ejournal/index.php/jurnal.../35

Jumat, 31 Oktober 2014

Menganalisis Kecurangan Pada Profesi Akuntansi

Pendeteksian terhadap kecurangan (fraud) akuntansi dapat di lakukan dengan mendeteksi indikasi kecurangan pada Akun atau elemen laporan keuangan dalam akuntansi dan pada User atau pihak pengguna atu pihak yang berkepentingan dengan Informasi akuntansi. Adapun penjelasan tentang pendeteksian kecurangan (fraud) akuntansi adalah sebagai berikut
Pendeteksian Berdasarkan Akun Atau Elemen Laporan Keuangan Amrizal  (2004)  menguraikan  garis  besar  cara  mendeteksi  kecurangan menurut ACFE adalah sebagai berikut: 
1.   Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud). 
Kecurangan  dalam  penyajian  laporan  keuangan  umumnya  dapat  dideteksi melalui analisis laporan Keuangan sebagai berikut:
a.   Analisis vertikal, yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara item-item dalam laporan laba rugi, neraca, atau Laporan arus kas dengan menggambarkannya dalam persentase.
b.   Analisis horizontal,
yaitu teknik untuk menganalisis persentase-persentase perubahan item laporan keuangan selama beberapa periode laporan.
c.  Analisis  rasio yaitu  alat  untuk mengukur  hubungan  antara  nilai-nilai  item dalam  laporan  keuangan  Sebagai  contoh  adalah  current  ratio,  adanya penggelapan  uang  atau  pencurian  kas  dapat  menyebabkan  turunnya perhitungan rasio tersebut
2.   Penyalahgunaan Aset (Asset Misappropriation) 
Variasi pendeteksian kecurangan jenis ini sangat beragam. Pemahaman terhadap pengendalian  intern  atas  pos-pos  tersebut  akan  sangat  membantu  dalam mendeteksi kecurangan. Metode-metode yang bisa digunakan antara lain: 
a.   Analiytical Review , atas berbagai akun yang mungkin menunjukkan ketidak biasaan         atau kegiatan-kegiatan yang tidak diharapkan. 
b.  Stastitical Sampling Melakukan  sampling  atas  pos-pos  tertentu  yang  dicurigai,  misalnya persediaan.  Dokumen  dasar  pembelian  dapat  diuji  secara  sampling  untuk menentukan  ketidakbiasaan  (irregularities),  metode  deteksi  ini  akan  efektif jika ada kecurigaan terhadap satu attributnya, misalnya pemasok fiktif. Suatu daftar alamat PO BOX akan mengungkapkan adanya pemasok fiktif 
c.  Vendor or outsider Complaints Komplain  /  keluhan  dari  konsumen,  pemasok,  atau  pihak  lain merupakan alat  deteksi  yang  baik  yang  dapat mengarahkan  auditor  untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. 
d.  Site Visite – Observation, Observasi  ke  lokasi  biasanya  dapat  mengungkapkan  ada  tidaknya pengendalian intern di lokasi-lokasi tersebut.
3.   Korupsi (Corruption) 
Kecurangan  ini  dapat  dideteksi  melalui  keluhan  dari  rekan  kerja  yang  jujur, laporan dari rekan, atau pemasok yang tidak puas dan menyampaikan komplain ke  perusahaan.  Atas  sangkaan  terjadinya  kecurangan  ini  kemudian  dilakukan analisis terhadap tersangka atau transaksinya. Pendeteksian berdasarkan  User atau Pihak yang berkepentingan dengan Informasi akuntansi Pendeteksian  terjadinya  praktik  kecurangan  bisa  dilakukan  dengan mengenali gejala-gejalanya antara lain: 
a.  Gejala Kecurangan pada Manajemen, Umumnya agak sulit dideteksi, namun gejalanya dapat dikenali yaitu timbulnya ketidakcocokan  diantara  manajemen  puncak,    rendahnya  moral  dan  motivasikaryawan, Departemen akuntansi  kekurangan staf, tingkat komplain yang tinggi terhadap  organisasi/perusahaan  dari  pihak  konsumen,  pemasok,  atau  badan otoritas,  terjadi  kekurangan  kas  secara  tidak  teratur  dan  tidak  terantisipasi, menurunnya    tingkat   penjualan atau  laba  sementara utang dan piutang usaha meningkat, perusahaan mengambil kredit  sampai batas maksimal untuk  jangka waktu  yang  lama,  terdapat  kelebihan  persediaan  yang  signifikan,  terdapat peningkatan jumlah ayat jurnal penyesuaian pada akhir tahun  buku. 
b. Gejala Kecurangan pada Karyawan/Pegawai, Gejala kecurangan yang dilakukan oleh karyawan atau pegawai dapat dikenali antara lain yaitu pembuatan ayat  jurnal penyesuaian tanpa otorisasi manajemen dan  tanpa  perincian/penjelasan  pendukung,  melakukan  pengeluaran  tanpa dokumen  pendukung,  pencatatan  yang  salah/tidak  akurat  pada  buku jurnal/besar,  penghancuran,  penghilangan,  pengrusakan  dokumen  pendukung pembayaran, kekurangan barang yang diterima, kemahalan harga barang yang dibeli, munculnya faktur ganda, penggantian mutu barang (Sie Infokum, 2008).
Perubahan  perilaku drastis  dari  individu  yang melakukan  kecurangan  bisa digunakan sebagai indikasi (Sie Infokum, 2008), antara lain yaitu 
1.   Perubahan perilaku  secara  signifikan,  seperti:  easy going,  tidak  seperti  biasanya,gaya hidup mewah,  mobil atau pakaian mahal 
2.   Gaya hidup di atas rata-rata 
3.   Sedang mengalami trauma emosional di rumah atau tempat verja
4.   Penjudi berat 
5.   Peminum berat 
6.   Sedang dililit utang 
7.  Temuan audit atas kekeliruan (error) atau ketidakberesan (irregularities) dianggap tidak material ketika ditemukan 
8.    Bekerja  tenang,  bekerja  keras,  bekerja  melampaui  jam  kerja,  sering  bekerja sendiri.

Sumber 
http://akuntansipendidik.blogspot.com/
http://oldboypaintingshoes.blogspot.com/2013/01/cara-mendeteksi-kecurangan-fraud.html




Jumat, 03 Oktober 2014

Etika, Norma, dan Hukum dalam Akuntansi

A.    Etika
Pengertian Etika
  • Menurut Kamus Besar Bhs. Indonesia (1995)  Etika adalah Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat
  • Etika adalah Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral
  • Menurut Maryani & Ludigdo (2001) “Etika adalah Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang di anut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profesi”

Dari asal usul kata, Etika berasal dari bahasa Yunani ‘ethos’ yang berarti adat istiadat/ kebiasaan yang baik Perkembangan etika yaitu Studi tentang kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan, menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan pada umumnya

  • Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia.
  • Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak.

Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma. Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma agama, norma moral dan norma sopan santun.
·      Norma hukum berasal dari hukum dan perundang-undangan
·      Norma agama berasal dari agama
·      Norma moral berasal dari suara batin.
·      Norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari sedangkan norma moral berasal dari etika

Fungsi Etika
1.     Sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan pelbagai moralitas yang membingungkan.
2.     Etika ingin menampilkanketrampilan intelektual yaitu ketrampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis.
3.     Orientasi etis ini diperlukan dalam mengabil sikap yang wajar dalam suasana pluralism

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pelanggaran Etika :
1.     Kebutuhan Individu
2.     Tidak Ada Pedoman
3.     Perilaku dan Kebiasaan Individu Yang Terakumulasi dan Tak Dikoreksi
4.     Lingkungan Yang Tidak Etis
5.     Perilaku Dari Komunitas

Sanksi Pelanggaran Etika :
1. Sanksi Sosial
 Skala relatif kecil, dipahami sebagai kesalahan yangdapat ‘dimaafkan’
2. Sanksi Hukum
 Skala besar, merugikan hak pihak lain.

Jenis-jenis Etika
1. Etika umum yang berisi prinsip serta moral dasar
2. Etika khusus atau etika terapan yang berlaku khusus.
  • Etika khusus ini masih dibagi lagi menjadi etika individual dan etika sosial.

  • Etika sosial dibagi menjadi:
    • Sikap terhadap sesama;
    • Etika keluarga
    • Etika profesi misalnya etika untuk pustakawan, arsiparis, dokumentalis, pialang informasi
    • Etika politik
    • Etika lingkungan hidupserta
    • Kritik ideologi Etika adalah filsafat atau pemikiran kritis rasional tentang ajaran moral sedangka moral adalah ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dsb. Etika selalu dikaitkan dengan moral serta harus dipahami perbedaan antara etika dengan moralitas.

Kode Etik Ikatan Akuntansi Indonesia terdiri dari 3 bagian yaitu :
1. Prinsip Etika
Prinsip Etika memberikan kerangka dasar bagi Aturan Etika, yang mengatur pelaksanaan pemberian jasa profesional oleh anggota. Prinsip Etika disahkan oleh Kongres dan berlaku bagi seluruh anggota.
2. Aturan Etika
Aturan Etika disahkan oleh Rapat Anggota Himpunan dan hanya mengikat anggota Himpunan yang bersangkutan.
3. Interpretasi Aturan Etika
.Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang dibentuk oleh Himpunan setelah memperhatikan tanggapan dari anggota, dan pihak-pihak berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya.


B.    Norma
Norma Pemeriksaan Akuntan
1. Norma Umum
                Pemeriksaan harus dilaksanakan oleh seorang atau beberapa orang akuntan publik yang memiliki keahlian dalam bidangnya dan telah menjalani latihan teknis yang cukup. Dalam segala hal yang berhubungan dengan penugasan yang diberikan kepadanya, akuntan publik harus senantiasa mempertahankan sikap mental independen. Dalam pelaksanaan pemeriksaan dan penyusunan laporannya, akuntan publik wajib mempergunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.

2. Norma Pelaksanaan Pemeriksaana.
                Pemeriksaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus dipimpin dan diawasi dengan semestinya. Sistem pengendalian intern yang ada harus dipelajari dan dinilai secukupnya untuk menentukan dapat atau tidaknya sistem tersebut diandalkan sebagai dasar untuk menetapkan luas pengujian yang harus dilakukan serta prosedur pemeriksaan yang akan digunakan. Bukti kompeten yang cukup harus diperoleh melalui, inspeksi, pengamatan, tanya jawab, dan konfirmasi sebagai dasar yang layak untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diperiksa.

3. Norma Pelaporan.
                Laporan akuntan harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi Indonesia. Laporan akuntan harus menyatakan apakah prinsip akuntansi tersebut dalam periode berjalan telah dilaksanakan secara konsisten dibandingkan dengan periode sebelumnya.
                Pengungkapan informasi dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan akuntan. Laporan akuntan harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau memuat suatu penegasan bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pernyataan yang demikian tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dikemukakan. Dalam hal nama akuntan publik dihubungkan dengan laporan keuangan, laporan akuntan harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pemeriksaan yang dilakukan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab akuntan yang bersangkutan.


2.     HUKUM

Dasar Hukum dan Pelaksanaan Akuntansi
Dasar hukum yang menadasari pelaksanaan akuntansi adalah Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dan Undang-Undang Hukum Perpajakan.
1. Asumsi Dasar Dalam Akuntansi
Asumsi-asumsi dasar merupakan aspek dari lingkungan tempat dimana akuntansi tersebut dilaksanakan. Asumsi-asumsi tersebut antara lain:

a) Kesatuan Usaha

b) Keuntungan Usaha
2. Konsep Dasar Dalam Akuntansi
Konsep dasar merupakan pedoman dalam menyusun akuntansi yang akan dilaksanakan. Konsp-konsep tersebut antara lain:

a) Asas Acrual Basic

b) Asas Cash Basic

c) Asas Pembanding Pengeluaran Beban Dengan Penghasilan

d) Harga Perolehan Historis
3. Tujuan Laporan Keuangan
a) Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan.

b) Memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai.

c) Menunjukan apa yang telah dilakukan manajemen.
4. Unsur Laporan Keuangan
1. Unsur Neraca.
a. Harta.

Adapun pembagian harta adalah sebagai berikut:
a) Harta lancar
b) Investasi Jangka panjang
c) Harta Tetap.
d) Harta Tak Berwujud.
b. Kewajiban.

Adapun pembagian kewajiban antara lain:
a) Kewajiban jangka pendek
b) Kewajiban jangka panjang.
c. Modal.
2. Unsur Laporan Laba Rugi.

a. Pendapatan.

Pendapatan dibagi menjadi Pendapatan Operasional dan Pendapatan Non-Operasional.

b. Beban.

Beban dibagi menjadi Beban Usaha dan Beban di Luar Usaha.
3. Unsur Laporan Perubahan Modal.

a. Saldo Awal

b. Laba atau rugi.

c. Pengambilan dan setoran modal dari pemilik
4. Unsur Laporan Arus Kas.

a. Arus kegiatan dari kegiatan operasi atau usaha.

b. Arus kas dari kegiatan investor.

c. Arus kas dari kegiatan pembelanjaan.
6. Kode Rekening.

Kode rekening adalah kode yang digunakan untuk memudahkan dalam menyusun laporan keuangan secara cepat dan tepat. Cara pemberian kode antara lain dengan cara:

1. Sistem Numerik.

2. Sistem Desimal.

3. Sistem Mnemorik.

4. Sistem Kombinasi Huruf dan Angka

Sumber :
Modul Etika Profesi Akuntansi, Oleh Beny Susanti


http://yuniparmita.wordpress.com/2011/11/25/5/

http://rika50.blogspot.com/

Senin, 02 Juni 2014

Tugas 3 Bahasa Inggris Inggris Bisnis 2

CT: Kalau Samsung Investasi di Vietnam, RI Kenakan Pajak Barang Mewah Ponsel
Maikel Jefriando - detikfinance
Jumat, 30/05/2014 23:34 WIB

Jakarta -Perusahaan elektronika asal Korea Selatan, yaitu Samsung, boleh saja berinvestasi membuka pabrik ponsel di Vietnam. Namun, pemerintah Indonesia akan memberlakukan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk ponsel ke depannya.

"Saya bilang, kalau you (Samsung) di sana (Vietnam) silakan, saya kenakan PPnBM. Begitu. Kalau kamu main-main sama saya, saya juga bisa main-main. Kita negara, kita nggak boleh kalah. Begitu. Saya negerti, kan saya pengusaha awalnya," ujar pria yang akrab disapa CT usai rapat koordinasi di kantornya, Jakarta, Jumat (30/5/2014).

Ia mengakui, Vietnam memang cukup unggul dalam pemberian insentif fiskal berupa tax holiday sampai dengan 30 tahun. Akan tetapi, negara tersebut tidak memiliki pasar yang besar.

Sementara Indonesia sudah diakui mempunyai kapasitas pasar yang besar untuk ponsel. Menurut CT, kebijakan tax holiday 5-10 tahun di Indonesia cukup untuk para investor.


"Kalau 30 tahun kita terus dapat apa. Begitu loh. Jadi artinya yang realistis yang bisa kita berikan. Kita sampai hari ini kan baru bicara tax holiday 5-10 tahun. Kalau sampai 30 tahun itu Indonesia kita mau dapat apa," paparnya. 

Jadi harus disesuaikan antara penawaran untuk investor dengan keuntungan negara. Setiap insentif yang diberikan harus masuk akal.

"Saya membuka diri asal rill. Jadi mintanya harus yang masuk akal, kalau mintanya nggak masuk akal, kita nggak bisa. Tapi kalau masuk akal dan sesuatu untuk republik ini menguntungkan," ujarnya.





CT : If Samsung's Investment in Vietnam, RI 

Wearing Luxury Goods Tax on Mobile Phone

Jakarta-South Korea origin Electronics Company, Samsung, can only invest in Viet Nam phone factory unlocked. However, the Government of Indonesia will impose a sales tax on luxury goods (PPnBM) for cell phones in the future.

I said, if you (Samsung) in there (Viet Nam) Please, I wear PPnBM. so. If you're messing around at me, I could also be playful. Our country, we must not lose. So. I understand, I businessman originally, ' said the gentleman who greeted familiar CT coordination meeting was over in his Office, Jakarta, Friday (30/5/2014).

He admits, Viet Nam is indeed quite superior in fiscal incentives in the form of granting a tax holiday of up to 30 years. However, the country does not have a large market.

While Indonesia has already recognized the capacity of a large market for mobile phones. According to CT,  the tax policy of holiday , 5-10 years in Indonesia is enough for investors.
If 30 years we continue what we get . So does that mean that we can realistically provide. We come to today's new talk tax holiday from 5-10 years. If to 30 years that Indonesia can be anything we want to, ' he explained.

So should be adjusted between deals for investors with the benefit of the country. Any incentives provided should be reasonable.

I open up the origin of rill. So his interest must be reasonable, if his interest dont make sense, we can not. But if it makes sense and something to this Republic is profitable, '' he said.

sumber http://finance.detik.com/read/2014/05/30/233446/2595969/1036/ct-kalau-samsung-investasi-di-vietnam-ri-kenakan-pajak-barang-mewah-ponsel?f9911013


Selasa, 22 April 2014

Second Assigment

Volcanic ash Kelud Disable Yogya

Yogyakarta Adisucipto Airport was closed for a while and resulted in 136 flight that was supposed to come and go to be canceled until an undetermined time.
 - Volcanic ash rain that occurred in Yogyakarta since early morning to Friday afternoon has resulted in a variety of community activities can not take place. Adisucipto Yogyakarta closed for a while and resulted in 136 flights come and go should be revoked until an undetermined time. General Manager of PT Angkasa Pura A Adisucipto Yogyakarta, Andi Gunawan Wirson petutupan banda estimate will take up to two or three days forward, when the situation allows and the runway cleared or completed aircraft from volcanic ash."Airport (Adisucipto) airport is temporarily closed until further completion operations, and this time because of unspecified environmental factors. Next to that would come or go to Yogyakarta, to tickets already purchased should please contact their airline, "said Andi Gunawan Wirson. thickness of volcanic ash that covers the roof, road and trees make the most of the citizens of Yogyakarta choose to stay at home. Official government offices and private Fridays and diliburkan also canceled many events. Schools also diliburkan including the city of Yogyakarta as presented by the mayor Haryadi Suyuti. "We dismiss education activities in schools included the start date Friday February 14, 2014 and there is possibility that we will ask all students to continue to learn at home," said the mayor Haryadi Suyuti. Meanwhile, the Office of Public Relations Iswanto provincial governor DIY deliver reminder that community for a while not doing activities outdoors. "Mr. Governor Sultan Hamengkubuwono DIY 10th recalled to society to reduce the activity out of the house and to the community using the mask and protective equipment, "said Iswanto. since Friday morning (14/2), the volunteers appear to share a free mask to road users, particularly motorcyclists pengendera which generally imposes a raincoat to protect themselves from volcanic ash. Whilst some traders in traditional markets complain due to lack of experienced buyers like Mrs. Eki in Kranggan market."Vegetable ash to be right so dirty, not too many buyers, because the do not want to leave home, and the market is open only two doors," he said.

sumber: 
www.voaindonesia.com/content/abu-vulkanik-gunung-kelud-lumpuhkan-yogya/1851269.html


Minggu, 16 Maret 2014

Assigments

Hello welcome to SOLO. We will visit Tawangmangu - EnjoyingGrojogan Sewu on the Slopes of Mount Lawu. Tawangmangu, approximetely 37 km east of Solo. Although situated on the slopes of mountain, this area is one of the attractions eith a very good public transportation access. Opening Hours Monday to Sunday : 08.00 a.m. to 04.00 p.m and ticketing domestic visitor : IDR 18.000 foreign visitor : IDR 18.000 student : IDR 9.000.

Tawangmangu is also popular with vegetables and fresh fruits. Fields planted with cabbage, carrots, radishes, stawberries, and various others stretches everywhere. We also went to an 81-meter-high waterfall located in the region. Grojongan Sewu, means "a thousand waterfalls", is located within a 20 ha protected forest area. This area is also equipped with flying fox, rafting, playground with its fishing area, and the outbound arena with its traffic park and tree train. 

Not only humas, thousands of monkeys also love this place. They roam freely without fear in humans. Although they seem tame, but you must remain vigilant because they could suddenly take your bag or other stuff. The most famous food here is " Sate Kelinci ". Rabbit meat is a little tough but has soft meat fibers, combined with peanut sauce, sliced peppers onions, served with rice or " lontong ", its so yummy. That was a tourist spot guides are in Solo, may be a nice holiday and unforgettable.

sumber 
http://solo.yogyes.com/id/see-and-do/nature-and-outdoor/tawangmangu/